Because I Could Not Stop For Death – Emily Dickinson


STUDENTA- Salah satu puisi dari Emily Dickinson yang paling menarik dan paling panjang adalah puisinya yang berjudul Because I Could Not Stop For Death. Atau kalau kita terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia berarti Karena saya tak bisa berhenti untuk kematian.

Judul puisi tersebut diambil dari baris pertama. Meski pun sebenarnya dalam setiap puisi yang ia tulis, hanya menyebutkan nomor saat diterbitkan. Puisi dari Emily Dicknison selalu memiliki ciri khas yang menjadi karakteristik di setiap puisinya.

Dalam puisi ini, ia menggambarkan kematian dengan cara yang unik, aneh tapi sangat penuh imajinatif. Ia seolah-olah mengajak para pembacanya melakukan perjalanan misterius melalui lorong waktu untuk menuju dunia yang berbeda. Lebih detail, mari simak selengkapnya puisi tersebut.

Because I Could Not Stop For Death

Emily Dickinson (1830 – 1886)

Because I could not stop for Death –
He kindly stopped for me –
The carriage held but just ourselves –
And Immortality.

We slowly drove – he knew no haste,
And I had put away
My labor, and my leisure too,
For his civility –

We passed the school, where children strove
At recess – in the ring –
We passed the fields of gazing grain –
We passed the setting sun –

Or rather – he passed us –
The dews grew quivering and chill –
For only gossamer my gown –
My tippet – only tulle –

We paused before a house that seemed
A swelling of the ground –
The roof was scarcely visible –
The cornice – in the Ground –

Since then – ‘tis centuries – and yet
Feels shorter than the day
I first surmised the horses’ heads
Were toward eternity

Terjemahan puisi Emily Dicknison
Karena Saya Tak Bisa Berhenti untuk Kematian

Emily Dickinson (1830 – 1886)

Karena saya tidak bisa berhenti untuk kematian –
Dia dengan ramah berhenti untuk saya –
Gerbong itu tertahan meski hanya diri kita sendiri –
Dan Keabadian.

Kami perlahan melaju – dia tidak tahu apa-apa
Dan saya telah menyisihkan
tenaga dan waktu luang saya juga,
Untuk kesopanannya.

Kami melewati sekolah dimana tempat anak-anak berjuang
Saat istirahat – di Gelanggang –

Kami melewati ladang gandum yang menatap –
Kami melewati matahari terbenam –

Atau lebih tepatnya – Dia melewati Kami –
Embun mulai bergetar dan Dingin –
Hanya untuk Gossamer, Gaunku –
Tippet ku – hanya kain Tulle –

Kami berhenti di depan sebuah rumah yang tampak
Pembengkakan Tanah –
Atapnya hampir tidak terlihat –
Penghias di atas tembok – di Tanah

Sejak saat itu – berabad-abad – namun terasa lebih singkat dari hari
Saya pertama kali menduga Kepala Kuda itu
Menuju Keabadian

(Diterjemahkan oleh tim studenta.id)
Subjek Kematian sebuah Analisis

Emily Dickinson menulis beberapa puisi tentang kematian, sebuah topik yang menjadi jalan buat dirinya untuk terus mengeksplorasi bakatnya. Dalam puisi ini, kita dapat melihat bahwa Emily tidak merasa takut dengan kematian, bahkan ia menganggap kematian itu baik.

Emily menegaskan bahwa sesuatu apa pun yang dimulai (kehidupan) akan berakhir pada keabadian. Kematian mengantarkan pada kehidupan tanpa akhir di mana setiap waktunya tidak memiliki konsekuensi. Emily juga seolah-olah mengetahui persis perjalanan tersebut sedang menuju keabadian, meskipun tidak ada bukti. Tapi justru inilah menariknya, karena kita dipaksa menafsirkannya secara intuitif.

Salah satu karakter yang kuat dalam puisi ini adalah penggunaan tanda hubung (-) untuk menghentikan sementara sebuah kalimat atau klausa. Dimana seolah-olah ia mengajak para pembaca untuk mengambil nafas sejenak sebelum melanjutkan. Tentu hal ini akan maksudnya jika menggunakan tanda koma (,) atau titik dua (:) yang juga digunakan dalam beberapa puisi karyanya.

Demikian pembahasan terkait puisi yang berjudul Because I Could Not Stop For Death. Semoga kita dapat mengambil ibrah (pelajaran) dari setiap peristiwa yang kita lewati dalam hidup.


What's Your Reaction?

Terharu Terharu
0
Terharu
Sedih Sedih
4
Sedih
Bingung Bingung
1
Bingung
Marah Marah
1
Marah
Suka Suka
0
Suka
STUDENTA

If you can't be intelligent, be a good person Open your mind and keep trying !

2 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  1. The poetry is very great , while the death theme is as the reminder for us, we all are not forever live physically in this world. Death is the beginning of life